Desa Maduretno merupakan salah satu desa yang telah berdiri sejak lama dan berkembang seiring perjalanan waktu.
Nama Maduretno berasal dari kata madur yang berarti tekun dan retno yang berarti berharga, sehingga secara umum dimaknai sebagai wilayah yang dijaga dan dihargai oleh masyarakatnya.
Nama Maduretno juga berasal dari kata madu yang berarti manis dan retno berarti berharga, sehingga dimaknai juaga sebagai wilayah yang indah, asri yang dijaga dan dihargai oleh masyarakat
Nama Desa Maduretno juga ditemukan buku Sejarah jilid 9 dari 11 yang terdapat di Perpustakaan Keraton Jogjakarta . Dalam buku ini dijelaskan bahwa ada pernikahan antara keraton Mataram dengan keraton Demak bintoro yang mengawali adanya Trah Maduretno.
Sejarah berdirinya desa maduretno tidak lepas dari adanya 4 tokoh Sejarah yaitu Eyang Raden Mbah Jonodrono, Raden Pacar Sore, Mbah Demboeng Baroeng dan Mbah Lurah Wates
Pada awal abad 18 datanglah utusan dari Mataram yang ahli di bidang pendidikan Bernama Eyang Raden Mbah Jonodrono yang kemudian menetap dan mendirikan padepokan Siwuni.
Raden Jono Drono memunyai istri yang Bernama Raden Ayu Tejo Asih, dari pernikahan ini Beliau mempunyai tiga orang anak. Anak pertama Bernama Raden Honggodrono (yang dimakamkan di jono), anak kedua Bernama Mbah Raden Joko Lelono (dimakamkan di Bojong) dan yang ketiga bernama Raden Ayu Yasmi (dimakamkan di si wuni). Nama Jonodrono diabadikan untuk manamai daerah yang sekarang dikenal dengan Dusun Jono.
Raden Pacar Sore adalah nama tokoh yang dipercaya dalam cerita sejarah lisan sebagai pendiri atau tokoh awal Desa Maduretno. Dalam kisah yang berkembang di masyarakat, Raden Pacar Sore dikenal sebagai sosok yang membuka wilayah permukiman pertama dan menyebarkan ajaran serta tata kehidupan kepada penduduk setempat. Beliau meninggal dan dimakamkan di Dusun wates
Raden Mbah Demboeng Baroeng tinggal di Dusun Plengseran. Beliau ahli di bidang pemerintahan dan menjabat Lurah pertama di Desa maduretno. Putri beliau yang bernama Mbah Sawiyah (Noerati) diperistri oleh Raden Lurah Wates berasal dari Bojong Curug. Lurah wates mempunyai istri kedua bernama Raden Ajeng Nawasuti. Raden Lurah Wates meneruskan pemerintahan di Desa Maduretno.
Seiring berjalannya waktu pemerintahan di Desa maduretno, dari Mbah Lurah diteruskan oleh Mbah Wongsorejo ( Mbah Hormat) sejak tahun 1925 s/d 1956, pemerintahan diterukan oleh Mbah Sumarsono sejak tahun 1956 s/d 1961, pemerintahan Desa maduretno dilanjutkan oleh Bapak H Trisno Hartono tahun 1962 s/d 1987 dan Bapak Iskandar pada tahun 1988 s/d 1996. sempat Desa Maduretno dikepalai oleh seorang PJ yang Bernama Bp Misbah, namun Sejak 1996 Desa Maduretno Kembali di pimpin oleh kepala desa, Putra dari Bp H. Trisno Hartono yang Bernama Bapak Ridho Sukmono menjadi kepala desa menjabat 2 periode sejak tahun 1996-2013 dan dilanjutkan oleh Adhiknya yang Bernama Bapak Drs. Edy setyo Sartono sejak tahun 2014 – sekarang.